Keep Holiness

" Sudakah Anda Percaya Injil? "

Posted by Keep Holiness

Preventing Depression

It may not always be possible to prevent depression; however, there are several things we can do to stop an approaching episode becoming severe or long-lasting.

Posted by Keep Holiness

Connect Group

Connect Group is a place for congregations experiencing a potential excavation.In which each church can find a true community in the Connect Group

Posted by Keep Holiness

God is a Healer

"Then your light shall break forth like the dawn, and healing shall spring up quickly." - Isaiah 58:8

50 orang berIQ tertinggi

Kecerdasan seseorang umumnya di lihat dari skor IQ. Padahal sebenarnya antara kecerdasan dan IQ terdapat perbedaan yang mendasar. Kecerdasan / inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Sementara itu IQ atau Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental ( Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age).
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Kemudian pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi
yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
Sudahkah anda mengetahui berapa skor IQ anda..? Silahkan coba kemudian bandingkan hasilnya dengan daftar berikut ini, yaitu daftar orang-orang dengan skor IQ tinggi.
Berikut ini adalah daftar orang-orang dengan IQ tertinggi, yaitu :
1. Fisikawan Kim Ung-yong : 210
2. Bouncer Christopher Michael Langan : 195
3. Engineer Philip Emeagwali : 190
4. World Chess Champion Garry Kasparov : 190
5. Sir Isaac Newton : 190
6. Francois-Marie Arouet (Voltaire)
7. Ludwig Wittgenstein
8. Author Marilyn Vos Savant : 186
9. Leonardo da Vinci
10. Actor James Woods : 180
11. Buonarroti Michelangelo
12. David Hume
13. Prime Minister Benjamin Netanyahu : 180
14. Politician John H. Sununu : 180
15. Johann Wolfgang von Goethe : 179
16. Emanuel Swedenborg
17. Gottfried Wilhelm von Leibniz
18. Edmund Spenser : 175
19. Baruch Spinoza
20. Johannes Kepler
21. John Stuart Mill : 174
22. Blaise Pascal : 171
23. Antoine Lavoisier : 170
24. Martin Luther
25. World Chess Champion Bobby Fischer : 170
26. Chess Grandmaster Robert Byrne
27. World Chess Champion Judith Polgar
28. Mathematician Andrew Wiles : 170
29. Michael Faraday
30. George Friedrich Handel
31. Mathematician / Physicist Stephen W. Hawking : 167
32. Samuel Johnson : 165
33. Ludwig van Beethoven
34. Joseph Priestley
35. John Locke
36. Thomas Hobbes
37. Charlotte Bronte
38. Galileo Galilei
39. Johann Sebastian Bach
40. Carl von Linne
41. Madame De Stael : 162
42. Rene Descartes
43. Robert Boyle : 160
44. Microsoft Founder Paul Allen : 160
45. Benjamin Franklin
46. Albert Einstein
47. Immanuel Kant : 159
48. Olof Palme : 156
49. Thomas Chatterton
50. Linus Carl Pauling
Nama-nama lain yang terkenal adalah Rembrandt van Rijn (154), Artis Actress Sharon Stone (154), Wolfgang Amadeus Mozart (154), Charles Darwin (153), Nicolaus Copernicus (150), Abraham Lincoln (150), Napoleon Bonaparte (145).
Sayangnya daftar diatas tidak memasukkan satupun tokoh/ilmuwan dari dunia islam. Semuanya itu tidak lepas dari berkembangnya konsep pengukuran2 kecerdasan tersebut memang dari dunia barat. Kalau test serupa dijalankan juga secara merata pada seluruh ilmuwan/ tokoh, saya yakin dalam urutan teratas akan muncul seseorang dari kalangan dunia islam.

Waktu Kedatangan Tuhan

Waktu-Tuhan
Hampir setiap pendeta berkata, tidak akan ada yang tahu waktu Kedatangan Tuhan alias waktu Pengangkatan. Belum pernah saya mendengar ada yang berkata lain. Pendapat ini memang beralasan kuat. Kesimpulan itu datangnya dari perkataan Tuhan Yesus dalam Injil Matius pasal 24 ayat 36: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.”
Namun saya mendapat penyingkapan yang mengejutkan. Bahwa kita akan tahu hari dan saatnya, justru dari ayat tersebut di atas.
Tuhan Yesus berkata, yang lain tidak ada yang tahu, tetapi Bapa tahu. Jadi jika Bapa memberitahu kita, kita akan tahu! Bukankah seharusnya kita berpikir demikian? Kecuali kita tidak tertarik akan Kedatangan Tuhan. Atau kita tidak begitu percaya, bahwa Bapa akan memberitahu rahasia-Nya kepada kita.
Bukankah ada tertulis: “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi”. Apakah ayat ini tidak berlaku sekarang? Apakah tidak ada lagi ‘nabi-Nya’ di akhir zaman ini?
Bukankah ada tertulis juga:”…kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.”?
Mungkin ada yg berkata, itu tidak kontekstual. Kalau begitu mari kita lihat kitab Daniel 12. Ketika Daniel bertanya tentang waktu-Nya. Malaikat Tuhan berkata di Daniel 12:9-10 “…Firman ini akan tinggal tersembunyi sampai akhir zaman … tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.”
Itu memang rencana Allah untuk menyingkapkan rahasia-Nya kepada umat-Nya di akhir zaman. Bukankah Tuhan Yesus juga berkata:”…tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.”(Markus 4:22)
Segera saya akan bahas di situs ini. Tentang kapan hari Kedatangan Tuhan menurut terang Penyingkapan Roh Kudus melalui Alkitab. Jangan keburu anggap sesat. Jangan seperti orang parisi yang menganggap semua yang mereka tidak bisa pahami sebagai kesesatan atau penghujatan.
Yang jelas dalam beberapa tahun ke depan kita akan menjadi saksi, semua nubuatan akhir zaman semuanya digenapi. Siap-siap saja.

the-black-horsemen

Salah satu krisis yang akan terjadi dan sekaligus menjadi tanda bahwa sistem dunia ini sedang menuju kepada akhirnya, adalah datangnya krisis pangan dunia. Dalam kitab Wahyu hal ini digambarkan sebagai munculnya Penunggang Kuda Hitam. Penunggang Kuda Hitam yang digambarkan membawa sebuah timbangan di tangannya oleh Kitab Wahyu, adalah lambang munculnya Otoritas Perdagangan yang pada akhirnya akan membawa kepada krisis pangan dunia.
Wahyu 6 ayat 6 mengatakan: “secupak gandum sedinar dan tiga cupak jelai sedinar, tetapi janganlah rusakkan (hurt – KJV) minyak dan anggur”. Ini adalah nubuat bahwa Otoritas Perdagangan akan membuat harga bahan pangan menjadi mahal, sementara bahan kebutuhan lain tidak terlalu terpengaruh. (minyak dan anggur di Alkitab digambarkan sebagai kebutuhan materi lainnya lihat Yoel 2:24).
Nubuat munculnya Penunggang Kuda Hitam ini sedang digenapi dewasa ini, harga-harga bahan makanan melambung tinggi, dan hal ini telah memicu bencana kelaparan yang melanda terutama di negara-negara miskin bahkan bila tidak diantispasi dengan baik akan berdampak kepada negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Tuhan Yesus juga menubuatkan  “Akan ada kelaparan … di berbagai tempat.” (Mat 24:7). Tahukah Anda bahwa bencana kelaparan global sedang melanda saat ini dan berdampak sangat serius? Mungkin orang tidak melihat kelaparan di kota mereka, tetapi inilah yang terjadi sesungguhnya, pada hari pangan sedunia 16 Oktober 2010, badan pangan dan pertanian dunia FAO menyatakan ada 1 milyar orang yang sedang dalam keadaan kelaparan saat ini.
Memasuki abad ke 21, kita melihat suatu masalah besar mulai terjadi di dunia ini. Dunia mulai dihadapkan pada krisis pangan yang serius. Tahun 1999 berkembang suatu wabah penyakit yang khusus menyerang tanaman pangan yang disebut Karat Batang (stem rust), yaitu penyakit yang diakibatkan sejenis jamur species Puccinia Graminis. Penyakit Karat Batang adalah penyakit yang hanya menyerang tanaman sereal seperti gandum, jelai dan tanaman padi-padian lainnya. Epidemi Karat Batang pada gandum yang disebabkan oleh ras Ug99 saat ini, menyebar di seluruh Afrika, Timur Tengah dan terakhir (2008) FAO melaporkan wabah ini telah mencapai Iran dan menyebabkan perhatian dunia karena besarnya jumlah orang yang tergantung pada gandum sebagai makanan. Nama Ug99 merupakan pengingat bahwa epidemi ini ditemukan pertama kali di Uganda Tahun 1999. Tidak seperti wabah lainnya Ug99 dapat mengakibatkan kegagalan panen hingga mencapai 100%.
Ancaman krisis pangan tidak hanya dari munculnya berbagai wabah pada tanaman pangan,  ada faktor-faktor lain yang mengancam ketahanan pangan dunia, salah satunya yaitu perubahan iklim akibat pemanasan global. Perubahan iklim sangat penting untuk ketahanan pangan. Ternyata 95% dari semua orang yang kekurangan gizi, tinggal di daerah-daerah sub-tropis dan tropis.
Menurut laporan terbaru IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), Forum antar pemerintah yang mempelajari dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia, kenaikan temperatur di wilayah-wilayah tersebut, sangat terkait dan berdampak pada kegagalan pada produksi pertanian dan dengan demikian menimbulkan krisis pangan. Sebagai contoh, kekeringan 1998-2001 di Asia Tengah membawa kerugian ternak 80% dan pengurangan 50% pada produksi gandum dan tanaman jelai di Iran. Angka-angka serupa terjadi di negara-negara lain. Peningkatan dalam cuaca ekstrim seperti kekeringan di daerah seperti Sub-Sahara malah memiliki konsekuensi yang lebih besar dalam hal malnutrisi. Bahkan tanpa peningkatan kejadian cuaca ekstrim, peningkatan suhu sederhana dapat mengurangi produktivitas banyak tanaman lain, dan akan mengurangi ketahanan pangan di wilayah kering ini.
Selain itu bila kita memperhatikan dengan seksama, Tahun 2007–2008 terjadi lonjakan harga bahan pangan yang ekstrim dan mengkhawatirkan yang disebut “krisis harga pangan dunia 2007-2008”  Harga rata-rata dunia untuk 4 bahan pangan pokok (Beras, Gandum, Jagung dan Kedelai) melonjak 146,25% dari 2006 ke 2008. Bahkan harga Beras telah mencapai 217% kenaikan4a). Hal ini bukanlah sesuatu yang wajar terjadi dan merupakan akibat krisis pangan global yang kemudian mengakibatkan berbagai instabilitas politik dan ekonomi dunia. Bahkan gejolak harga pangan ini dikhawatirkan merupakan gejala dari suatu krisis yang lebih serius di tahun-tahun yang akan datang.
Mengapa terjadi lonjakan harga bahan pangan demikian ekstrim? Di masa lalu, banyak negara terbiasa menyimpan cadangan bahan pangan yang cukup tinggi. Namun bersamaan dengan pertumbuhan produksi pangan dunia dan berbagai kemudahan dalam kebijakan import, negara-negara mulai menurunkan cadangan stok. Menurut Martin Khor mantan Direktur Third World Network (Jaringan untuk organisasi-organisasi yang bekerja untuk Dunia Ketiga dan kerjasama Utara-Selatan), IMF (dan WTO (organisasi perdagangan dunia) atas kepentingan ekonomi pasar bebas, juga telah turut bersalah karena menekan negara-negara berkembang, dalam perjanjian di sektor pertanian, untuk mengambil berbagai kebijakan yang membuat negara-negara yang semula mandiri dalam hal pangan menjadi tergantung kepada import dari negara-negara maju.
Ekonom pemenang hadiah Nobel untuk Economic Science, Amartya Sen mengamati bahwa, dalam beberapa dekade terakhir, bencana kelaparan yang terjadi selalu menyangkut masalah distribusi pangan atau kemiskinan. Sebab pada masa-masa bencana itu ternyata, ada makanan yang cukup untuk memberi makan seluruh penduduk dunia. Sen adalah Profesor Ekonomi dan Filsafat di Universitas Harvard, dan penerima puluhan gelar doktor kehormatan, serta pengajar pada universitas terkemuka dunia. Amartya Sen menyatakan bahwa gizi buruk dan kelaparan lebih terkait dengan masalah distribusi makanan dan daya beli masyarakat. Profesor Sen melihat bahwa ada kerangka kebijakan yang dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan pasar Internasional, yang membuat banyak negara tidak berdaulat dalam menentukan kebijakan pangan, yaitu untuk menentukan kebijakan pertanian, peternakan, dan perikanan, yang dapat menimbulkan ancaman bencana kelaparan dan gizi buruk secara global di masa yang akan datang. 
Nubuat-Krisis-Pangan
Krisis pangan memang telah menyebabkan bencana kelaparan di negara-negara miskin dan berkembang. Kita telah mendengar kelaparan melanda Ethiopia, Somalia, Sudan, Korea Utara. Baru-baru ini kelaparan kembali melanda Afrika, Afghanistan, Tajikistan dan Bangladesh. Tahun 2009, 10 juta penduduk Kenya menghadapi bahaya krisis pangan. Namun semua itu belum berakhir, dan kondisi yang lebih serius bisa berlangsung lebih lama. Akhir tahun lalu koran-koran dan kantor berita dunia mengangkat isu ancaman bahaya kelaparan global, setelah berbagai negara pengekspor gandum utama seperti Rusia melarang pengapalan gandumnya ke luar negeri.
Dunia benar-benar menghadapi ancaman bahaya kelaparan yang serius. Perubahan cuaca juga membuat panen gagal, negara produsen gandum terbesar ketiga, yaitu Rusia sampai melarang ekspor gandum dan serealnya (Grain), karena kekeringan dan kemarau parah melanda Rusia Tengah dan sepanjang Sungai Volga. Pemerintah Rusia menyatakan darurat pada 28 wilayah pertaniannya. Selain melarang ekspor, Pemerintah Rusia menjanjikan bantuan finansial 25 Milyar Rubles (Rp 7,5 Triliun) untuk memotivasi petani mereka yang mengalami kerugian akibat kekeringan. Ancaman kelaparan menjadi semakin serius dengan terjadinya berbagai bencana seperti banjir pada negara-negara produsen pangan dunia lainnya seperti Australia dan Brasil.
Jacques Diouf Dir. Jen. FAO (Badan Pangan & Pertanian Dunia) pada Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2010 di Roma menyatakan: “925 juta orang hidup dalam kelaparan kronis dan mal-nutrisi saat ini. 100 negara darurat terancam produksi pertaniannya, 30 negara dalam keadaan krisis pangan”. Selanjutnya Diouf mengatakan, “untuk menghindari bahaya Kelaparan Global produksi pertanian harus meningkat 70%, dan dua kali lipat di negara-negara berkembang”. Bila ternyata yang terjadi adalah kegagalan panen dimana-mana, krisis pangan benar-benar akan melanda lebih luas.
Ancaman-Krisis-Pangan
Di tanah air sendiri, harian Kompas berkali-kali mengangkat isu krusial ini. Baik soal krisis yang terjadi secara global, maupun yang dirasakan secara regional, juga ancaman bahaya ini bagi bangsa kita. Kompas melaporkan bahwa isu ketahanan pangan merupakan problem serius yang dapat memicu masalah sosial.
Umat Tuhan tidak dapat berpangku-tangan dan diam tidak peduli pada persoalan yang datang mengancam. Gereja Tuhan justru seharusnya yang pertama siap menghadapi krisis ini, karena kepada kita telah diberikan penyingkapan atau wahyu jauh-jauh hari. Jika para pemimpin gereja tidak dapat “memahami” wahyu Tuhan ini, maka kesukaran besar akan dialami oleh umat-Nya.
Sekarang inilah waktu bagi nubuat-nubuat Kitab Wahyu digenapi. Nubuat Penunggang Kuda Hitam telah kita masuki zamannya, ini merupakan era terakhir sebelum Penunggang Kuda berikutnya: si manusia durhaka muncul. Jangan lupa, krisis kelaparan tidak akan berhenti ketika Penunggang Kuda Hijau Pucat muncul (Pale Horse Wah 6:8 KJV). Umat Tuhan justru akan mengalami masa “padang gurun” pada masa Antikristus itu berkuasa (Wah 12:6). Pemimpin jemaat yang tidak mengasihi Firman Allah, tidak akan memiliki “sayap penyingkapan” dari kitab Wahyu, sehingga tidak dapat membawa jemaatnya ke tempat “pemeliharaan” di masa padang gurun itu (Wah 12:14).  Namun para pemimpin yang memahami wahyu Tuhan akan berbuat sesuatu mempersiapkan lumbung-lumbungnya (Kej 41), seperti ada tertulis:  “tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” (Dan 11:32b).